KAPANLAGI NETWORK
MORE
TANYA
  1. HOME
  2. MY KIDS AND I
  • Pemenuhan Dha Adalah Hak Anak-Anak
    Anisa Deasty Malela Last Update 08 Apr 2019

    Hak anak untuk hidup bahagia, bermain dengan bebas, mendapatkan pendidikan, bahkan mendapat kebutuhan asupan gizi seimbang dan disertai pemenuhan DHA dan Omega 3. Jangan hentikan pemberian susu saat anak berusia 3 tahun, bahkan anak masih membutuhkan susu pertumbuhan saat usia 4-12 tahun.

  • Hal Ekstrim Untuk Bunda Pertimbangkan Jika Ingin Menjaga Berat Anak
    Kinari Gharenesia Last Update 05 Apr 2019

    Apakah Anda tahu mengenai angka obesitas yang dialami oleh anak balita di Amerika? Angkanya kian hari kian meningkat. Bahkan, pada tahun 2010, angka obesitas yang dialami oleh anak balita dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan tiga puluh tahun terakhir. Hal tersebut membuat orang tua di Amerika melakukan hal yang cukup ekstrim untuk menjaga berat badan ideal. Tentu Bunda tidak perlu meniru semuanya. Bunda hanya perlu mengambil pelajaran. Bawasannya obesitas bisa dialami oleh anak kecil. Bukan hanya orang dewasa saja. Dan ada saatnya di mana Bunda sebagai orang tua harus tegas dan sedikit lebih keras dalam mengurus anak. Ini sangat diperlukan jika Bunda benar-benar ingin memastikan berat badan balita terjaga. Bukankah itu yang Bunda inginkan? Ada Kalanya Mendidik Anak Lebih Keras Tidak hanya satu atau dua faktor saja yang menyebabkan balita mengalami obesitas. Dan faktor di setiap daerah itu berbeda-beda. Bagaimana dengan di Indonesia? Kebanyakan balita yang mengalami kegemukan itu disebabkan oleh beberapa faktor. Dan dari faktor tersebut, ditemukanlah tips yang bisa Bunda terapkan untuk menjaga berat badan ideal balita. Stop Gadget Sulit memang bagi orang tua sekarang ini untuk menghentikan kebiasaan anak bermain gadget. Hampir semua anak balita sekarang sudah lihai dalam bermain gadget. Mereka sudah tahu juga bagaimana bermain game online.   Namun, bagaimanapun juga, ini harus dihentikan. Banyak anak yang akhirnya kecanduan. Ini efek buruk jangka panjangnya. Efek buruk jangka pendeknya adalah obesitas.   Kebanyakan anak yang sulit lepas dari gadget memiliki waktu yang sangat sedikit untuk bergerak. Jangankan olahraga, bergerak seperti berjalan ke untuk membantu merapikan rumah saja malas.   Hal tersebut menjadi penyumbang terbesar anak mengalami kegemukan. Oleh sebab itu, Bunda perlu lebih tegas melarang anak untuk terlalu sering bermain gadget.   Jangan berikan gadget. Kalaupun Bunda sudah terlanjut membelikan gadget, sita gadget tersebut. Ini jalan satu-satunya agar Bunda bisa setidaknya mengontrol anak bermain gadget.   Ada wifi di rumah? Sebaiknya dimatikan. Awalnya, anak mungkin akan menangis. Ia berontak. Namun, ini hanya awal saja.   Cari Alternatif Tentu saja Bunda tidak boleh hanya melarang anak bermain tanpa memberikan alternatif lainnya. Hal yang satu ini sangat disarankan. Coba Bunda ajak anak untuk bermain di Timezone. Di sana, ada banyak sekali permainan game.   Memang dengan cara ini, Bunda harus keluar uang lebih banyak. Akan tetapi, coba Bunda bayangkan manfaatnya. Anak punya alternatif selain hanya berdiam diri dengan gadgetnya sepanjang hari.   Tentu tidak setiap hari Bunda harus mengajak anak ke Timezone. Bunda bisa jadwalkan seperti waktu weekend.   Selain itu, sekarang ini banyak permainan game yang membuat anak bergerak di Timezone. Setidaknya, ini menjadi permainan yang membuat anak lupa dengan permainan gadget. Anak akan lebih aktif bergerak. Dan ini adalah cara yang paling tepat untuk menjaga berat badan ideal.   Kurangi Makan Di Luar Selain untuk berhemat, mengurangi makan di luar juga bisa membuat anak terhindar dari obesitas. Tentu tidak semua tapi bisa dikatakan kebanyakan makanan yang dijual di luar itu mengandung MSG.   Ada simpang siur mengenai penyebab MSG ini. Ada yang mengatakan MSG sama sekali tidak berbahaya jika takarannya tidak terlalu banyak. Namun, dari mana Bunda tahu jika makanan yang Bunda beli di luar itu mengandung MSG yang hanya sedikit?   Di sisi lain, ada juga yang berpendapatan sedikit pun takarannya, MSG menjadi penyebab berbagai penyakit, terutama obesitas dan kanker.   Anda tidak perlu terlalu ekstrim untuk mendukung yang pro atau yang kontra. Yang pasti, kurang makan di luar. Biasakan anak makan buatan Bunda sendiri. Dengan demikian, Bunda tahu persis bahan makanan sehat. Begitu juga dengan bumbu yang Bunda gunakan.   Yang terpenting lagi, dengan membuatkan makanan setiap hari, diharapkan anak akan kanget masakan Bunda ketika ia dewasa dan tidak lagi satu rumah dengan Bunda. Bukankah momen yang mengharukan jika anak Bunda sudah besar dan merasa kanget masakan Bunda? Olahraga Setiap Hari Minggu Beruntung sekali jika anak sudah menemukan olahraga favoritnya. Namun, kebanyakan balita usia di bawah 4 tahun belum punya olahraga favorit.   Daripada Bunda belikan gadget, akan lebih baik jika Bunda gunakan uang tersebut untuk membeli sepeda. Ajak anak bersepeda setiap minggu. Ini sudah cukup untuk membakar sehat dan langkah yang tepat untuk menjaga berat badan ideal anak. Cukup tiga hal tersebut saja yang Bunda perlu lakukan. Asalkan Bunda benar-benar menerapkan tips tersebut, risiko obesitas itu bisa diturunkan atau bahkan bisa dihindari. Tidur Anak Juga Perlu Diperhatikan Bunda pasti sudah terlalu sering mendengar nasehat tentang pentingnya olahraga untuk balita. Katanya, olahraga cara yang paling tepat untuk mencegah obesitas. Namun, jangan sepelekan yang satu ini, yaitu tidur yang berkualitas. Banyak balita yang sudah bergerak aktif tapi berat badannya di atas angka normal. Ternyata, ini disebabkan kualitas tidurnya yang kurang bagus. Saat anak tidur, saat itulah tubuh melakukan proses regenerasi. Dengan demikian, orang tubuh menjadi semakin baik ketika anak terbangun. Dengan organ tubuh yang baik, maka nutrisi pun terserap lebih maksimal. Bayangkan jika anak kurang tidur. Durasi tidurnya sangat kurang. Bagaimana proses regenerasi bisa berjalan?   Itulah mengapa untuk menjaga berat badan ideal, jangan hanya fokus pada makanan dan juga olahraga. Bunda juga perlu perhatikan kualitas tidur balita.  

  • Seperti Apa Kriteria Permainan Untuk Otak Anak Usia 1 Tahun?
    Coba Loba Last Update 27 Mar 2019

    Bunda tahu apa itu golden period? Ini merupakan masa keemasan anak balita. Dikatakan masa emas karena pada waktu itu otaknya memiliki potensi yang begitu cepat untuk berkembang. Butuh stimulus seperti permainan untuk otak anak agar benar-benar berkembang secara maksimal. Sayangnya, banyak orang tua yang tidak mengerti tentang hal tersebut. Ketika membelikan mainan, mereka asal pilih. Mereka tidak mempertimbangkan apakah permainan tersebut cocok untuk dimainan balita 1 tahun atau tidak. Memang sekarang ini mainan anak-anak sudah diberi keterangan untuk usia berapa. Serta, terkadang sudah ada label “edukatif” yang artinya mainan tersebut bagus untuk otak anak. Namun, apakah Bunda langsung percaya begitu saja? Tentu saja tidak kan? Bunda perlu tahu seperti apa mainan untuk otak anak usia 1 tahun. Kriteria Mainan Edukatif Yang Tepat Untuk Balita 1 Tahun Kelihatannya sederhana. Namanya mainan edukatif ya mainan yang mengasah otak. Mainan yang membuat otak anak berkembang. Namun, ini harus lebih dipersempit. Mainan tersebut harus bisa mengasah otak anak usia 1 tahun. Tentu saja beda dengan mainan edukatif untuk anak dewasa, bukan? Maka dari itu, Bunda harus tahu kriterianya. Mainan Yang Bersuara Kok bersuara? Karena saat usianya baru menginjak 1 tahun, anak baru belajar bicara. Maka dari itu, penting bagi si kecil untuk lebih sering bermainan dengan permainan untuk otak anak yang memicu anak berbicara.   Tidak ada cara yang efektif ketika balita belajar bicara kecuali sering mendengar. Karena pada dasarnya anak balita itu meniru. Ia menirukan suara yang ia dengarkan. Jadi, ia dengar lalu ia tirukan.   Pada proses tersebut, otak bekerja. Jelas kan mengapa mainan edukatif untuk anak balita 1 tahun itu mainan yang mengeluarkan suara?   Mainan Bergambar Tidak perlu yang muluk-muluk. Semakin banyak permainan yang bergambar, semakin berkembang otak anak. Karena dengan melihat mainan bergambar tersebut, anak tidak hanya senang tapi juga belajar. Ia mengenal berbagai jenis gambar, entah itu berupa hewan, tanaman, tumbuh-tumbuhan, dan lain sebagainya.   Akan lebih baik jika Bunda pilihkan mainan bergambar yang berwarna-warni. Jadi, tidak hanya belajar gambar saja, anak juga belajar membedakan warna. Ini salah satu kriteria penting permainan edukatif anak usia 1 tahun.   Bahan Aman Ini tak kalah penting untuk Bunda ingat. Apapun mainan eduaktif yang Bunda belikan, pastikan mainan tersebut terbuat dari bahan yang aman. Contohnya mainan tersebut terbuat dari bahan busa. Boleh juga mainan tersebut terbuat dari bahan plastik asalkan plastik tersebut bebas BPA. Setelah tahu kriteria mainan untuk perkembangan otak balita 1 tahun tersebut, Bunda bisa lebih leluasa untuk memilih mainan yang tepat. Permainan Edukatif Murah Yang Bisa Bunda Pilih Masih belum punya ide permainan untuk otak anak seperti apa yang sebaiknya Bunda beli? Berikut ini beberapa nama mainan edukatif untuk anak balita. Soft Block Daya kreatif anak harus mulai diasah sejak dini. Dan ini bisa Bunda lakukan dengan cara membelikan mainan berupa soft block. Ini block dengan bentuk bermacam-macam yang bisa dipasang oleh si kecil.   Bukan hanya memasang. Pada saat itu, sebenarnya anak berimajinasi membuat sesuatu. Ia menggunakan block yang ada sehingga ia bisa membuat sebuah bangunan atau bentuk yang lain.   Bisa saja Bunda belikan block biasa yang terbuat dari plastik. Namun, pertimbangkan juga untuk membelikan block yang soft. Ini terbuat dari busa. Dengan demikian, soft block ini jauh lebih aman dibandingkan dengan block yang terbuat dari plastik atau bahkan kayu.   Mainan Komputer Ini bukan komputer yang digunakan oleh orang dewasa ya, melainkan komputer kecil yang jika tombolnya ditekan maka akan mengeluarkan suara. Suara yang keluar berbeda-beda. Biasanya menunjukkan angka, huruf, dengan bahasa yang berbeda. Umumnya berbahasa Indonesia dan Inggris.   Ini menjadi mainan untuk otak anak yang tepat karena mainan ini akan membuat anak belajar bicara. Seperti salah satu kriteria yang sudah dijelaskan sebelumnya, mainan seperti ini bisa membuat anak mendengar, menghafal, lalu menirukan kata atau kalimat yang keluar dari mainan tersebut.   Mega Block Starter Pack Ini seperti halnya soft block. Hanya saja, biasanya ukurannya lebih kecil. Dan bahannya dari plastik.   Biarkan anak menghabiskan waktu menata block di rumah. Ini akan membuat kreativitas anak terus terasah. Namun, akan lebih baik jika Bunda sebagai orang tua ikut serta dalam permainan tersebut. Ajarkan bagaimana membuat bentuk tertentu. Hidupkan imajinasinya karena inilah sebenarnya tujuan dari mainan edukatif untuk anak yang satu ini. Nah, kira-kira sudah punya bayangan permainan edukatif seperti apa yang sebaiknya Bunda beli? Tidakk hanya tiga itu saja. Masih banyak mainan edukatif untuk balita lainnya. Tentu bukan hanya permainan saja yang dibutuhkan oleh si kecil. Jika tujuannya agar otaknya terus berkembang maksimal, pastikan juga kebutuhan nutrisi otak terpenuhi. Berikan makanan bergizi. Tambahkan suplemen seperti susu balita terbaik.   Otak akan berkembang dengan lebih baik jika ada stimulus dari dalam, yaitu dari makanan dan minuman yang bergizi. Stimulus dari luar pun dibutuhkan, yaitu dari permainan untuk otak anak yang Bunda belikan. Jangan buang-buang uang hanya untuk membelikan mainan sembarangan. Ingat, anak Bunda sudah berusia 1 tahun. Bunda harus bijak ketika membelikan mainan untuk sang buah hati.  

  • Apakah Bunda Selama Ini Telah Menerapkan Cara Menyajikan Susu Yang Benar?
    Coba Loba Last Update 19 Mar 2019

    Tidak banyak orang tua yang memperhatikan mengenai cara menyajikan susu yang tepat. Bahkan, mereka mungkin tidak mengerti bagaimana cara yang sebenarnya. Padahal, sudah ada instruksinya. Di setiap bungkus susu, pasti disertakan bagaimana cara menyeduh susu yang benar. Apakah Bunda pernah membacanya? Apakah Bunda yakin susu balita sudah disajikan dengan cara yang benar? Bunda bisa jawab saja pertanyaan yang satu ini. Mana yang Bunda tuangkan ke dalam botol susu atau gelas. Apakah susu bubuk atau airnya? Jika susunya yang Bunda dahulukan, itu salah. Akibat Dari Cara Menyajikan Susu Yang Tidak Sesuai Aturan Mungkin Bunda merasa tidak masalah kalaupun tidak menyajikan susu dengan tepat. Itu hal yang sepele. Namun, setelah Bunda tahu apa saja akibatnya, Bunda akan berubah pikiran. Kenapa cara menyajikan susu ini perlu Bunda ketahui? Karena ini berimbas pada kesehatan anak. Para ahli gizi anak mengatakan cara menyajikan yang tidak sesuai dengan aturan bisa menyebabkan kandungan susu hilang atau rusak. Hal ini bisa berakibat cukup buruk. Bagaimana Bunda memberikan susu yang kandungan nutrisinya sudah rusak. Itu sama saja tidak memberikan nutrisi yang dibutuhkan setiap hari. Kandungan di dalam susu akan rusak jika susu langsung terkena air panas. Contohnya saja ketika susu disiapkan di dalam botol atau gelas. Lalu, air panas dituangkan ke dalam botol atau gelas tersebut. Inilah yang menurut para ahli gizi menyebabkan kandungan di dalam susu rusak, terutama protein. Apa Bunda mau si kecil yang seharusnya mendapatkan protein dari susu harus kekurangan protein? Tentu saja tidak, bukan? Maka jika ada balita yang sebenarnya setiap hari minum susu tapi badannya terlihat kurus atau bahkan berat badannya di bawah angka normal, bukan tidak mungkin jika orang tuanya salah dalam menerapkan cara penyajian susu. Mereka harus disadarkan. Jangan terus melakukan hal tersebut. Ikuti Langkah-Langkah Menyajikan Susu Sebenarnya, tidak sulit untuk menyajikan susu. Hanya saja, banyak orang tua yang tidak tahu atau tidak mau tahu. Mereka tidak membaca instruksi cara menyeduh susu yang sudah ditulis di bungkus susu. Bunda tidak perlu mencari bungkus susu sekarang. Baca, hafalkan, lalu terapkan langkah-langkah menyajikan susu berikut ini: Siapkan Botol atau Gelas Pertama-tama, siapkan botol atau gelas. Lebih baik Bunda gunakan gelas saja ya. Ini akan membuat si kecil langsung belajar cara minum susu dari gelas. Pasalnya, banyak balita yang sudah terbiasa minum dari botol dan akhirnya susah untuk lepas dari botol. Hingga sudah sekolah pun mereka masih minum susu dengan botol.   Untuk itu, para ahli perkembangan anak menyarankan agar menyajikan susu dengan gelas saja. Jangan menggunakan botol.   Tentu tidak salah jika Bunda menggunakan botol. Lebih ribet jika susu disajikan dengan menggunakan gelas. Apalagi jika balita Bunda masih berusia di bawah 2 tahun. Bunda harus menemani si kecil saat minum susu. Susu bisa tumpah jika tidak dibantu atau tidak diawasi.   Terlepas dari hal tersebut, botol atau gelas harus disiapkan dengan baik. Pastikan Bunda sudah membersihkannya. Pastikan juga kehigienisannya. Jangan sampai botol atau gelas masih kotor, basah, atau masih ada sabun yang menempel. Jika perlu, bersihkan dengan tisu untuk memastikan botol atau gelas yang Bunda gunakan benar-benar kering.   Tuangkan Air Panas Langkah selanjutnya dari serangkaian cara menyajikan susu adalah menuangkan air panas ke dalam botol atau gelas. Cukup sedikit saja. Jangan terlalu banyak karena susu nantinya terlalu panas.   Tuangkan Air Dingin Tentu saja Bunda tidak akan menyajikan susu panas, bukan? Melainkan susu hangat. Oleh sebab itu, tuangkan air dingin secukupnya hingga air di botol atau di gelas menjadi hangat.   Masukkan Susu Setelah air hangatnya siap, silakan masukkan susu bubuk. Aduk dengan sendok atau kocok jika Bunda memilih untuk menyajikan susu dengan menggunakan botol. Dengan mengikuti langkah menyajikan susu tersebut, Bunda tidak akan merusak atau menghancurkan kandungan protein di dalam susu. Jadi, terapkan cara tersebut setiap hari ya Bunda. Bolehkah Susu Disajikan Dengan Air Dingin? Beberapa orang tua merasakan ribet yang luar biasa ketika membawa si kecil jalan-jalan ke luar kota. Bagaimanapun juga, mereka harus memberikan susu kepda si kecil. Dan ini bukan hal yang mudah jika harus menyajikan susu di dalam kendaraan. Ada yang menyarankan berikan susu UHT. Jadi, tinggal beli susu kotak. Tidak perlu menyajikan susu sendiri. Namun, ini bukan cara yang bijak, apalagi jika anak masih berusia di bawah 2 tahun. Ada beberapa balita di bawah 2 tahun yang tidak mampu mencerna susu UHT dengan baik. Di sisi lain, ada juga anak yang tidak mau susu UHT. Ini terjadi jika balita sudah terbiasa mengkonsumsu susu bubuk. Lalu, bagaimana solusinya? Kebanyakan orang tua menyajikan susu dengan menggunakan air dingin. Bolehkah? Sebenarnya, tidak ada larangan jika susu disajikan dengan air dingin. Hanya saja, harus dipastikan air tersebut benar-benar bersih ya. Karena ada kemungkinan bakteri ada di air dingin. Beda dengan air hangat. Bisa dipastikan bakteri tidak ada. Jauh lebih aman menyajikan susu dengan air hangat daripada air dingin.   Namun, jika keadaan tidak memungkinan, contohnya saat perjalanan dan Bunda tidak membawa termos, gunakan saja air dingin. Yang penting, Bunda menerapkan cara menyajikan susu dengan tepat. Itu yang terpenting.  

  • Apakah Stimuno Aman Dikonsumsi Oleh Balita?
    Taufik Al Mubarak Last Update 03 Feb 2019

    Syrup stimuno disebut sebagai vitamin dan suplemen untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh anak. Apakah produk stimuno aman untuk dikonsumsi?

  • Percuma Jika Kandungan Nutrisi Susu Lengkap Tapi Ada Masalah Dengan Penyera
    Kinari Gharenesia Last Update 13 Mar 2019

    Bunda mungkin merasa cukup menjadi orang tua yang baik karena sudah memberikan susu yang terbaik. Setidaknya ini yang bisa Bunda pasti lakukan untuk memastikan kebutuhan nutrisi anak tercukupi. Karena kandungan nutrisi susu sudah mampu mencukupi kebutuhan nutrisi harian anak. Namun, ada satu pertanyaan lagi yang perlu Bunda jawab. Apakah Bunda yakin nutrisi yang terkandung di dalam susu sudah benar-benar terserap dengan baik? Pertanyaan tersebut bisa dengan mudah Bunda jawab dengan satu cara. Lihat berat badan anak. Apakah ideal? Jika tidak ideal, ada kemungkinan kandungan nutrisi di dalam susu tidak diserap dengan baik oleh tubuh si kecil. Lebih dari itu, bukan hanya berat badan yang ideal saja yang menjadi patokannya. Oleh sebab itu, penting bagi Bunda untuk mengetahui apa tanda balita mengalami masalah dengan penyerapan nutrisi, apa penyebabnya, dan apa yang sebaiknya Bunda segera lakukan. Tanda Balita Mengalami Masalah dengan Penyerapan Nutrisi Paling mudah untuk dijadikan patokan adalah berat badan. Karena memang berat badan balita menentukan kesehatannya. Lihat saja jika Bunda mengajak anak untuk memeriksakan kesehatan di rumah sakit. Pasti yang dilakukan pertama kali adalah menimbang berat badan. Akan tetapi, ketika badan anak terlihat kurus, misalnya, bisa saja ini disebabkan oleh makanan atau minuman yang Bunda berikan setiap hari tidak memenuhi kebutuhan nutrisi harian. Bisa juga kemungkinan yang lain. Bunda sudah berikan susu terbaik tapi kandungan nutrisi susu tidak diserap dengan baik. Di sisi lain, ada lho balita dengan berat badan ideal namun ada masalah dengan penyerapan nutrisi. Dokter anak menjelaskan ada banyak sekali tanda jika balita mengalami masalah penyerapan nutrisi selain berat badan yang tidak ideal. Pertumbuhan Badan Kurang Optimal Selain berat badan, coba Bunda perhatikan perkembangan anak. Apakah sama seperti anak-anak seusianya? Lihat bagaimana pertumbuhan giginya. Perhatikan bagaimana gerakan motorik halus dan motorik kasar.   Level Keaktifan Secara umum, balita itu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Jika diajak untuk melakuan hal yang baru, mereka sangat excited. Bahkan jika mereka memiliki mainan baru, mereka bisa berjam-jam memainkan permainan tersebut.   Akan tetapi, balita yang punya masalah dengan penyerapan kandungan nutrisi di susu biasanya justru lemas. Ia kurang aktif. Bisa saja ia kekurangan energi sehingga kurang aktif. Dan ini bisa saja menjadi indikasi bahwa tubuhnya tidak atau kurang bisa menyerap nutrisi dari apapun yang ia konsumsi.   Feses Tahukah Bunda jika feses itu menentukan kesehatan anak? Ini yang banyak orang tua kurang pahami. Bunda perhatikan saja jika anak sakit. Feses-nya biasanya berwarna hitam, padat, atau bahkan terlalu encer. Berbeda dengan anak yang sehat. Fesesnya berwarna kuning bersih dan mudah dikeluarkan.   Dokter anak sering mewanti-wanti agar orang tua memperhatikan bentuk feses anak. Jika terlalu padat atau terlalu encer, bisa saja itu disebabkan penyerapan nutrisi tubuh si kecil yang kurang bagus. Karena seharusnya yang dikeluarkan melalui buang air besar itu sesuatu yang sudah tidak dibutuhkan oleh tubuh. Nutrisi sudah diproses dan disalurkan ke tubuh. Feses menjadi hasil akhir yang tidak dibutuhkan oleh tubuh. Sekarang, Bunda sudah tahu beberapa tanda penyerapan kandungan nutrisi susu yang kurang bagus selain berat badan anak tidak normal. Penyebab Kandungan Nutrisi Tidak Diserap dengan Baik Sebelum Bunda mencari tahu cara untuk mengatasi masalah ini, harus dicari tahu apa penyebabnya. Karena hanya dengan cara inilah Bunda akan menemukan cara yang tepat untuk mengatasi penyerapan nutrisi yang kurang bagus. Banyak sekali faktor penyebabnya. Yang pasti, faktor kesehatan alat cerna anak menjadi yang paling utama. Itulah mengapa balita harus mendapatkan nutrisi yang cukup untuk memastikan saluran cerna selalu dalam kondisi sehat. Karena ini menentukan kesehatan tubuhnya secara keseluruhan. Dengan saluran cerna yang baik, maka kandungan nutrisi susu pun bisa diproses dengan baik. Bisa juga penyerapan yang kurang baik ini disebabkan faktor lain. Sebut saja adanya parasit di dalam usus. Di sisi lain, ada juga kasus di mana penyerapan yang kurang baik ini disebabkan oleh penyakit seperti Celiac dan Crohn. Untuk yang satu ini, Bunda perlu membawa balita ke dokter anak untuk mendapatkan treatment khusus. Akan tetapi, pada intinya kesehatan alat pencernaan harus dijaga. Dan ini bisa Bunda lakukan dengan cara memastikan makanan higienis dan anak mendapatkan susu terbaik yang mengandung lactobacillus. Karena kandungan inilah yang dibutuhkan oleh sistem pencernaan agar selalu dalam kondisi baik. Apa Yang Bisa Bunda Lakukan? Setelah tahu apa saja faktor penyebab yang mungkin menyebabkan balita mengalami masalah penyerapan nutrisi, setidaknya ada dua hal yang Bunda perlu lakukan. Yang pertama, fokus untuk menyehatkan sistem pencernaan anak. Pastikan Bunda berikan susu terbaik yang mengandung lactobacillus setiap hari. Lakukan secara rutin dan lihat perkembangannya. Yang kedua, periksa ke dokter. Jika cara yang pertama sudah Bunda lakukan tapi tetap saja ada tanda bahwa balita mengalami masalah penyerapan nutrisi, segera periksakan ke dokter. Karena dikhawatirkan ada parasit di dalam tubuh. Atau jangan-jangan ada penyakit tertentu yang menyebabkan tubuh si kecil tidak bisa menyerap nutrisi dengan baik.   Yang pasti, sebagai orang tua, Bunda harus memperhatikan betul perkembangan anak. Jangan hanya merasa sudah cukup ketika setiap hari telah menyiapkan makanan bergizi dan susu yang terbaik. Karena bisa saja kandungan nutrisi susu atau yang ada di dalam makanan tidak bisa diserap dengan baik oleh tubuh. Jadi, percuma saja yang Bunda lakukan selama ini. 

  • Multivitamin Stimuno Untuk Balita Usia 1 Tahun
    Shila Silviana Last Update 10 Mar 2019

    Aoakah Multivitamin Stimuno untuk balita usia 1 tahun aman?

  • Tanya Mama Ella, Saya Christya Purnama Sari, 27 Th,saya Janda Dengan Anak 2
    Danil Petsley Last Update 07 Mar 2019

    Ma saya christya saya lahor pada 31juli91,saya adalah jnda dr 2 oranf anak,,, apakah ada kemungkinan buat saya rujuk kbali bersama suami atau saya akanenjalani kehidupan baru yg lebih baik lagi,saya mohon pencerahannya ma. Karena saat ini saya lebih banyak despresi ketika melihat anak2 apalagi saya harus mencukupi kebutuhan mereka sendiri,,,apakah saya sggup utk semua

  • 9 Ciri Anak Sehat Yang Wajib Orang Tua Ketahui
    Coba Loba Last Update 01 Mar 2019

    Ciri anak sehat tidak bisa hanya dilihat dari tampilan fisiknya, kondisi anak dalam segi psikis dan sosial juga menjadi ciri penting. Anak dengan fisik sehat bisa jadi mengalami gangguan mental atau masalah yang lainnya. Hal ini disebabkan karena pertumbuhan dan perkembangan anak yang tidak berjalan dengan seimbang. Oleh karena itu, ciri-ciri anak yang sehat penting orang tua ketahui untuk memantau kesehatannya. Ciri-Ciri Anak Sehat Melihat si kecil tumbuh menjadi anak yang sehat tentu sangat membahagiakan bagi orang tua. Ditambah lagi jika anak pintar bersosialisasi dengan lingkungan, ia pasti menjadi kebanggaan untuk orang tuanya. Nah, tahukah Bunda ciri-ciri anak yang sehat? Untuk itu, berikut ciri balita sehat yang harus Ayah dan Bunda ketahui: Tumbuh dengan Baik Anak yang sehat adalah anak yang mengalami masa pertumbuhan dengan baik. Yang ini berarti anak memiliki tinggi dan berat badan yang sesuai usianya. Tidak hanya itu, anak yang sehat juga memiliki ketahanan tubuh yang baik sehingga tidak mudah terserang kuman dan virus penyakit. Berkembang Sesuai Usia Perkembangan anak memiliki beberapa peningkatan di setiap tahap usianya. Karena itu Bunda perlu mempelajari dan memahami proses perkembangan anak. Perkembangan ini meliputi kemampuan sensori motorik, kognitif, emosi, dan juga sosial. Jika perkembangan anak mengalami keterlambatan, konsultasikan hal ini dengan dokter untuk mengetahui pengaruhnya. Aktif, Lincah dan Ceria Anak sehat cenderung akan selalu aktif dan lincah bergerak dengan wajah yang ceria. Ia akan terlihat seolah tidak kenal lelah dan tidak mau diam saat asyik bermain. Hal ini karena kondisi fisiknya yang prima dan kemampuan bergerak dan berpikirnya yang berkembang dengan baik. Mata Bersih dan Terlihat Bersinar Mata anak yang sehat akan terlihat bersih dan bersinar. Ia juga menunjukkan kontak mata yang responsif saat diajak bicara. Kondisi ini menjadi gambaran bahwa mata anak dalam keadaan sehat dan ia juga tidak terlalu malu menatap orang lain. Bunda bisa menstimulasi hal ini dengan mengajak anak bicara sambil menatapnya saat ada kesempatan. Kulit dan Rambut Bersih dan Tidak Kering Kulit dan rambut terawat juga merupakan salah satu tanda anak sehat. Kulit yang sehat terlihat bersih dan lembab serta mudah sembuh jika terluka. Kesehatan rambut dapat dilihat dari tekstur, warna dan juga kekuatannya. Untuk anak yang sehat, rambut akan lebih tebal, tidak mudah rontok dan tampak berkilau. Bibir, Lidah, Gigi dan Gusi Tampak Segar Bibir yang sehat tampak segar, tidak kering dan tidak juga pecah-pecah. Berbeda dengan bibir anak tidak sehat yang tampak pucat. Lidah yang sehat juga akan berwarna merah tanpa bercak putih akibat jamur. Sedangkan untuk gigi akan terlihat cemerlang dengan gusi yang berwarna merah muda. Nafsu Makan Baik Anak dengan nafsu makan baik menunjukkan bahwa kesehatannya juga baik. Hal ini karena saat nafsu makan anak dapat terkontrol maka asupan gizi yang ia dapatkan juga akan lengkap. Berbeda dengan anak yang nafsu makannya buruk, ia akan sulit makan atau hanya mau makan satu jenis makanan. Jika kondisi ini dibiarkan terus menerus, kebutuhan gizinya bisa tidak tercukupi. Nafas Tidak Berbau Bau nafas diakibatkan oleh kurangnya perawatan pembersihan mulut dan gigi anak. Untuk mengatasinya, ajarkan kebiasaan merawat kebersihan mulut dan gigi dengan sikat gigi minimal dua kali sehari saat malam menjelang tidur dan saat bangun pagi. Mudah Menyesuaikan Diri dengan Lingkungan Saat berada di lingkungan baru, anak tidak merasa takut atau malu. Ia mudah berbaur dengan anak lain dan tidak canggung mengekspresikan kreativitasnya. Hal ini membuktikan bahwa perkembangan psikososial anak berkembang dengan baik. Tanda-Tanda Anak Tidak Sehat yang Perlu Diwaspadai Sistem kekebalan tubuh anak memang belum sepenuhnya berkembang dengan baik. Itu sebabnya wajar jika anak-anak lebih mudah terserang penyakit. Karena itu selain mengetahui ciri anak sehat, ada baiknya ketahui juga tanda-tanda anak tidak sehat berikut ini: Kesulitan Bernapas Anak yang kurang sehat akan cenderung sulit bernapas, napasnya mengeluarkan bunyi, sesak napas atau bahkan mengalami ISPA (Infeksi saluran napas). Penyebab yang paling umum dari hal ini adalah asma, karena itu segera periksa ke dokter jika anak mengalami masalah ini. Tidak Selalu Merespon Saat Dipanggil Untuk mengetahui kesehatan pendengaran anak, Bunda bisa memeriksanya dengan melihat responnya saat dipanggil atau mendengar suara keras. Jika anak jarang merespon, waspadai adanya gangguan kesehatan pada pendengaran anak dan segera periksakan kondisi telinganya ke dokter. Mata Sulit Fokus Anak-anak masih belum mengerti apakah ia melihat dengan jelas atau kabur. Karena itu, periksa kesehatan mata anak dengan memperhatikan perilakunya seperti mengeryit saat melihat objek jauh, kesulitan membaca, duduk terlalu dekat untuk menonton tv atau nilai ulangan yang semakin menurun. Rasa Haus Berlebihan Kehausan yang berlebihan bahkan setelah minum banyak air bisa jadi pertanda anak menderita diabetes. Tanda lainnya adalah seringnya anak buang air kecil, berat badan menurun, rasa lapar berlebih dan mudah lelah. Jika beberapa tanda ini muncul, coba konsultasikan kesehatan dengan dokter. Berat Badan Turun Drastis Wajar jika anak mengalami penurunan berat badan sekitar 1-2 kg. Tapi jika berat badannya turun secara tiba-tiba tanpa diketahui sebabnya maka hal ini harus diwaspadai. Hal ini karena penurunan berat badan yang tidak normal bisa jadi pertanda bahwa kesehatan tubuh bermasalah.   Ciri anak sehat memang meliputi banyak hal, jadi usahakan selalu memantau dan memperhatikan kesehatan anak dari beberapa segi. Anak yang sehat adalah anak yang memiliki kemampuan serta keterampilan yang membuatnya cerdas dan aktif.